Bisnis Sambilan Sebagai Langkah Awal Membentuk Mental Pebisnis

Dulu ketika jadi karyawan saya agak gengsi untuk belajar bisnis ritel. Maksudnya bawa barang ke kantor dan jualan. Gak pernah terpikir sama sekali untuk mencoba, bahkan perasaan sudah ngeri duluan dan mulut bakalan kaku untuk menawarkan barang dagangan. Apalagi latar belakang dan profesi saya memang cenderung menjadikan seseorang menjadi lebih diam dan banyak berbicara hanya dengan komputer. Maklum saja profesi saya adalah IT Officer di sebuah bank asing. Itulah yang membuat saya takut kalau beralih profesi menjadi marketer yang harus pandai bicara, persuasi dan meyakinkan orang lain agar membeli produk yang saya tawarkan.

 

kami semua dulu bekerja di kantor dan sekarang fokus di bisnis oriflame scr online

kami semua dulu bekerja di kantor dan sekarang fokus di bisnis oriflame scr online

 

Tapi keadaan bisa berubah. Yang tadinya gengsi, takut dan tidak yakin terhadap kemampuan diri sendiri, karena kebutuhan mau tidak mau bisa belajar dari nol. Bagaimana caranya membawa barang dagangan ke kantor, promosi melalui email dan negosiasi harga dengan teman-teman kantor. Semuanya dipelajari sambil mengamati dari orang-orang yang berjualan di sekitar saya.

 

Tetap kerja kantoran sambil dagang. Hasilnya? Tidak bisa fokus, karena sambilan. Tapi hati senang karena berhasil mengalahkan hambatan diri sendiri yang takut menawarkan. Sungguh pengalaman yang membuat saya percaya kalau ternyata menjual barang itu tidak menakutkan kok. Niatkan saja untuk bercerita. Kalau mau beli ya alhamdulillah banget, tapi kalau belum beli saat itu juga saya tetap bersyukur karena saya sudah bercerita.

 

Rahasia pebisnis adalah melawan ketakutannya sendiri. Belajar untuk jadi pemberani meskipun sejujurnya takut. Tidak ada kita-kiat efektif selain terjun langsung dan merasakan interaksi dengan orang lain ketika sedang berjualan. Ketika sudah mencoba, selanjutnya secara natural kita akan bisa menjadi mandiri dan tentu saja pandai membaca gesture lawan bicara kita. Dari keahlian membaca gesture lawan bicara kita akan mengerti kapan melanjutkan penawaran dan kapan saatnya berhenti.

 

Belajar berbisnis ritel bagi saya pribadi adalah pengalaman yang membuat mental lebih kuat. Dicuekin, bahkan ditinggalkan pembeli saya pernah kok merasakannya. Dihutangin bahkan ditawar sambil dibandingkan dengan penjual lain sudah pernah juga saya rasakan. Memang begitulah kenyataannya. Gak di dunia online dan offline, beragam karakter pembeli harus berhasil dikenali agar sebagai penjual tidak mudah tersulut emosi dan tetap bisa tenang memberi penawaran.

Rahasia dibalik sukses adalah tetap menawarkan apapun tantangannya. Marketing is about numbers. Menawarkan ke 10 orang maka kemungkinan closing ada diangka 1-2 orang. Jika ingin mencari 10 orang yang closing maka usahakan untuk terus menawarkan ke 100 orang yang berbeda. Itu rumus marketing yang berlaku secara umum.

 

Jadi yuk manfaatkan sosial medianya untuk menawarkan produk yang anda pakai. Semakin sering merekomendasikan pasti hasilnya pun akan semakin banyak orang yang teredukasi dan mau mencoba produk yang anda pakai. Gak masalah kok kalau diawal-awal mengerjakan bisnis sambilan selagi bekerja di kantor, sedang kuliah atau mengurus anak-anak di rumah. Pelan tapi pasti, bisnis yang dirintis dengan konsisten dan penuh semangat akan memberikan hasil nyata. Hingga tanpa sadar menekuni bisnis sambilan ternyata pada akhirnya bisa menjadi bisnis utama yang menopang ekonomi keluarga.

Yuk, mulai rintis bisnismu sekarang juga!

 

Peluang Usaha Modal Kecil Oriflame