KALAULAH SEMPAT

Henmaidi Alfian

Assalamualaikum ww.

Berikut sebuah tulisan yang saya tulis beberapa waktu lalu (Awal 2016) dan sempat melanglang buana di berbagai media sosial…

(Terakhir ada yang copas, mengedit dan menuliskan Seakan-akan merupakan tulisan atau pidato Pak Habibie di Cairo. Update 12/9/19)

Nasihat buat diri sendiri.. dan kita semua.

Kalaulah Sempat…

Seorang laki-laki tua duduk di teras rumahnya. Rumah yang besar namun sepi penghuni. Istri sudah lama meninggal. Tangan menggigil karena lemah, penyakit mnggerogoti sejak lama. Duduk tak enak, berjalan tak nyaman. Untunglah seorang kerabat jauh mau tinggal bersama menemani beserta satu orang pembantu.

Tiga anak, semua sukses. Berpendidikan sampai ke luar negeri. Ada yang sekarang berkarir di luar negeri. Ada yang bekerja di perusahaan asing dengan posisi tinggi, ada pula yang jadi pengusaha. Soal Ekonomi, angkat dua jempol. Semua kaya raya.

Namun, saat tua seperti Ini dia merasa hampa. Ada pilu mendesak disudut hatinya. Tidur tak nyaman, dia berjalan ke ruang tengah, memandangi foto-foto masa lalu. Foto laki-laki gagah dengan keluarganya berlatar tembok China. Menata Eifel, Big Ben, Sydney bridge. Berbagai belahan bumi telah dijejaknya. Diabadikan dengan foto dibingkai bagus yang tak mampu lagi dilihat pandangannya yang sudah mengabur.

Di rumahnya yang besar dia merasa kesepian. Tiada suara anak, cucu. Hanya detak jam yang berbunyi teratur. Pinggang dan Punggungnya terasa sakit, sesekali air liurnya keluar dari mulutnya. Sungguh tak nyaman.

Dari sudut mata ada air menetes. Rindu dikunjungi anaknya, tapi anaknya sibuk Dan tinggal jauh di kota lain. Rindu cucu-cucu menggelayuti tangan dan lututnya, namun hanya hayalan. Ingin pergi ke Masjid namun badan tak mampu. Begitu lama waktu ini bergerak. Tatapannya hampa. Jiwanya kosong, hanya gelisah yang menyeruak.. Sepanjang waktu…

Laki-laki itu, barangkali adalah Saya. Nanti. Barangkali Anda yang membaca tulisan ini suatu saat nanti. Hanya menunggu sesuatu yang tak pasti. Yang pasti hanya kematian. Rumah besar tak mampu lagi menyenangkan hati. Anak sukses tak mampu menyejukkan hati. Cucu-cucu yang seperti orang asing. Asset-asset produktif yang terus menghasilkan, entah untuk siapa.

Kira-kira jika datang malaikat menjemput. akan seperti apakah kematian Ini? Siapa yang akan memandikan? Dimana kita akan dikuburkan? Sempatkah anak datang menyelenggarakan mayat Dan menguburkan kita

Apa amal yang akan dibawa ke akhirat nanti? Rumah akan tinggal, asset akan tinggal. Anak-anak entah akan ingat untuk berdoa atau tidak. Sedang shalat mereka sendiri saja belum tentu berisi. Apa lagi jika dulu anak tak sempat dididik sesuai tuntunan Yang Maha Kuasa. Ilmu agama hanya sebagai sisipan saja. Mereka malah tidak ingat berdoa untuk kita. Malangnya.

Kalau lah sempat dahulu menyumbang yang cukup berarti di Masjid, Rumah yatim, panti asuhan.
Kalau lah sempat dahulu membeli sayur dan melebihkan uang pada nenek tua yang selalu datang. Kalaulah dahulu sempat memberikan sandal untuk disumbangkan di Masjid biar dipakai orang. Kalaulah sempat membelikan buah buat tetangga, kenalan dan handai taulan. Mungkin itu semua akan menjadi amal penolong kita.

Kalaulah dahulu anak disiapkan menjadi Muslim yang Shaleh. Ilmu agama Dan ilmu Al-Qurannya lebih diutamakan. Ibadah shalat dan sedekahnya dituntun. Maka mungkin mereka senantiasa akan terbangun malam, meneteskan air mata medoakan kita orang tuanya.

Kalaulah sempat membagi ilmu dengan ikhlas pada orang sehingga bermanfaat baginya…

Kalaulah sempat… Mengapa kalau sempat? Mengapa itu semua tidak jadi perhatian utama kita? Sungguh kita tidak adil pada diri sendiri. Kenapa kita tidak lebih serius menyiapkan bekal untuk menhadapNya nanti?

Semoga tulisan kecil Ini menjadi nasihat bagi diri saya, bagi kita semua. Berseriuslah menyiapkan diri menghadapi kematian, Dan kehidupan akhirat yang kekal.