Keputusan Bahagia BerHS di Tahun 2016

Screen Shot 2017-01-30 at 3.31.24 PM

 

Homeschooling Membahagiakan Keluarga Saya

 

Memulai HS

Bagaimana memulai cerita ini? Sungguh sebenarnya saya kebingungan. Apalagi niatnya untuk dikirimkan agar masuk ke dalam sebuah sayembara. Tulisan ini akan menjadi yang pertama untuk diikutkan ke sebuah lomba menulis. Saya tidak begitu pandai menulis dengan cantik. Kebiasaan membaca membuat saya perlu media untuk menuangkan hasil berpikir dari beberapa bacaan yang saya minati. Seiring waktu, sesuai dengan usia saya yang saat ini nyaris menyentuh kepala 4 saya terus berpindah-pindah mencicipi kategori buku. Kategori buku yang saya gilai dengan level cukup tinggi adalah tentang bisnis, properti, leadership, pengembangan diri dan akhir-akhir ini saya mulai membaca lebih banyak buku-buku parenting.

 

Bermula dari postingan-postingan Ayah Edy Parenting, akhirnya saya mulai berkelana menjelajahi FB Pagenya, blogspot dan youtubenya beliau. Ada beberapa rekaman youtube yang saya dengarkan sambil bekerja dan menyinggung tentang Homeschooling. Saya semakin penasaran dan memutuskan untuk mempelajari lebih dalam. Buku-buku yang membahas tentang Homeschooling dengan bahasa Indonesia pun saya beli. Penjelajahan itu akhirnya mengantarkan saya ke website RumahInspirasi dan FB Page Ibu Septi Peni. Webinar pertama saya ikuti di akhir tahun 2014, disanalah saya mengenal sosok praktisi homeschooling Pak Aar dan Ibu Lala.

 

Tahun 2015 saya memutuskan untuk mendalami sungguh-sungguh Homeschooling. Saya mulai sering bercerita kepada suami dan ibu yang memang tinggal bersama di rumah. Mereka berdua setia mendengarkan cerita saya tanpa sekalipun pernah berpikir bahwa saya akan mengambil bagian sebagai keluarga praktisi homeschooling. Sebenarnya, saya pun tidak pernah menyangka kalau pada akhirnya di pertengahan 2016 keputusan untuk HS bisa menjadi kenyataan. Kedua anak saya yang berusia 15 dan 8 tahun dengan suka cita dan bergembira siap menjadi berbeda. Mereka tidak takut akan kelamnya masa depan jika tidak bersekolah formal. Mereka sangat percaya akan keputusan kedua orang tuanya. Meskipun kami baru memulainya sejak bulan Juni 2016 yang lalu, saya ingin berbagi pengalaman dan hikmah yang kami dapatkan selama 6 bulan terakhir sejak keputusan ber-HS tersebut.

 

Kenapa Memutuskan HS?

 

Adiva Shakira, sulung kebanggaan saya yang duduk di kelas IX saat itu sedang galau. Wajahnya penuh jerawat merekah merah, besar-besar, menyebar di wajahnya. Kondisi yang seolah-olah menunjukkan jelas kegelisahannya. Tanpa berbicara pun saya paham kalau anak saya sedang stres bersiap menghadapi UN sebelum masuk ke SMA pilihannya. Di sekolah, beberapa puluh sesi pendalaman materi harus dijalani. Belum lagi saya mendaftarkannya ke Bimbingan Belajar yang menurut saya cukup bagus di area tempat kami tinggal. Hari-harinya padat. Sesekali saya memaksanya bangun lebih pagi untuk berjalan santai di taman dekat rumah. Sambil malas-malasan dia tetap mau mengganti bajunya dan menemani saya jalan santai. Sambil berjalan saya bercerita tentang Ayah Edy, Mas Aar dan Mba Lala (Rumah Inspirasi) dan cerita keluarga mereka yang homeschooling. Kelihatannya dia tidak mendengarkan serius. Tapi saya tetap bercerita. Hingga suatu saat dia berkata kalau cita-citanya ingin menjadi penulis tapi ketika guru BP memberitahu bahwa di SMA nanti hanya ada dua penjurusan yaitu IPA dan IPS dia sangat kecewa dan bingung mau ambil jurusan yang mana.

 

Karena alasan itulah akhirnya kami bersiap untuk menjalankan homeschooling saja sejak kelas X dan seterusnya. Saya tidak ragu melangkah karena selama 2 tahun kebelakang saya sudah membekali diri dengan banyaknya ilmu-ilmu yang dibagikan langsung oleh para praktisi HS. InshaAllah terang jalannya. Saya yakin hal tersebut karena melangkah dengan ilmu tentu saja akan membuat perjalanannya menjadi lebih terukur. Memang proses yang saya alami tidak sama dengan keluarga yang lain. Bahkan metode yang kami lakukan selama 6 bulan ini bahkan bisa dibilang masih sangat bebas dan dinamis sekali. Semuanya saya anggap proses. Alam mengajarkan tentang proses , saya bersabar dalam prosesnya untuk mendapatkan hasil yang indah nanti.

 

Lantas apa yang membuat saya berbahagia dengan keputusan ber-HS ini?

 

Bagaimana HS Membuat Keluarga Saya Berbahagia?

 

Rasanya, begitu banyak kebahagiaan yang hadir di rumah kami sekarang. Saya mengenal lebih dekat anak-anak dengan kelebihan dan kekurangannya. Kebiasaannya juga pertanyaan-pertanyaan mereka membuat saya mengerti cara memotivasi dan mendekati mereka. Sering kami berbicara santai namun dekat ke hati baik ketika sedang berada di dapur, di teras maupun sambil tidur-tiduran dalam kegiatan membaca. Memberikan contoh kegiatan keseharian saya di rumah membuat mereka akhirnya mau terlibat dalam kegiatan memasak, membereskan kamar dan produktif menghasilkan sesuatu setiap harinya. Saya usahakan untuk menagih kegiatan setiap hari kepada anak-anak. Sering saya bertanya, “hari ini mau nulis apa?”, “kita masak apa?”, “mau bikin rekaman video kegiatan yang mana?”, “sudah menulis jurnal belum?” dan lain-lain. Ditambah lagi sang ayah sebelum berangkat ke kantor sering bertanya, “Hari ini mau buat apa? Nanti ceritakan ya sepulang ayah dari kantor.” Hal itu juga membuat anak-anak berpikir untuk mengerjakan sesuatu yang baik, bermanfaat dan sesuai dengan kesukaan mereka masing-masing.

 

Sebentar lagi akan berganti tahun. Untuk menyambut tahun yang baru, Adiva sudah membuat beberapa tujuan besar yang ingin dicapainya di tahun 2017. Dia belajar menentukan targetnya sendiri, mau belajar hal apa dan mau mengikuti kursus di mana, semuanya dipilih sendiri. Tentu saja setelah itu, kami harus berdiskusi lagi apalagi hal-hal yang menyangkut biaya dan skala prioritas kegiatannya. Tugas saya mengarahkan dan menagih komitmen terhadap tujuan yang sudah dibuatnya. Jika nanti terlihat tidak semangat atau lupa terhadap tujuan maka tugas ayah dan ibunyalah yang akan mengingatkan supaya dia tetap berada di jalur yang sudah ditentukannya sendiri.

 

Perjalanan HS kami masih sangat prematur. Baru 6 bulan. Saya dan suami pun turut menjadi pembelajar sejati untuk mendampingi mereka. Bahagia rasanya, karena kami berdua pun ternyata bertumbuh ke arah yang jelas berusaha demi menjadi fasilitator terbaik bagi kedua buah hati kami.

 

Ohiya, selain itu juga sejak anak-anak ber-HS sekarang saya jadi lebih sering ke dapur. Karena saya dan sulung di rumah berbagi tugas setiap kali memasak. Masing-masing memasak satu jenis masakan. Saya senang anak saya sudah mau belajar memasak sekarang, berbekalkan resep-resep yang mudah sekali didapatkan dari internet dia bisa mengolah bahan masakan menjadi masakan yang enak disantap. Bahkan sesekali jika timbul niatnya untuk mencoba satu jenis kue tertentu, dia akan pergi ke pasar dekat rumah untuk membeli bahan dan sibuk di dapur bahkan tanpa saya dampingi. Bukankah memasak, mencuci piring, membereskan kamar, berbelanja ke pasar, membaca rute kereta, melakukan order makanan juga merupakan sebagian dari keahlian hidup yang harus dikuasai oleh anak-anak. Karenanya saya senang sekali mengajarkan hal tersebut kepada anak-anak saya sejak ber-HS.