Some Lessons from Lecture at Qotavorlesung

Dengan menulis, pikiran bisa diawetkan atau disimpan sepanjang masa. Dengan alasan itu pula aku meminta Adiva untuk berbagi cerita dari kegiatan2 yang diikutinya selama jadi anak homeschooler. Meski tidak setiap habis kegiatan dia akan menulis dengan komitmen, tapi ibunya dengan penuh semangat bakalan terus menagih hasil output tulisan darinya.

Satu tulisan ini dibuatnya setelah datang ke acara Qotavorlesung minggu lalu. Alhamdulillah, ibunya senang, apalagi selain tulisan ini kak Diva pun menyertakan rekaman audio untuk ibunya ikut belajar. Wuaah, ibu makin bahagia dong jadinya …makasih sayangkuuu

#homeschooling_journey
#adiva17yo
#qotavorlesung

—————-

19 September 2018, aku pergi mengikuti lecture di qotavorlesung.

Qotavorlesung dari apa yang aku tau adalah semacam lecture yang diadakan oleh sekumpulan orang yang datang untuk mendapatkan pencerahan dan mungkin terinspirasi. Kedatangan pertamaku terjadi karena kebetulan diajak oleh Yudhis dan beberapa teman lain, Hasya dan Difi yang juga penasaran pengen coba.

 

designing your own happiness

designing your own happiness

Aku sudah mendengar tentang pertemuan ini dari Yudhis dan ibuku sebelumnya, walaupun dekat dari rumahku aku tak kunjung mengikuti. Biasa lah, mager anak homeschooling yang akut. Keluar rumah malam-malam untuk datang kesitu, sendiri naik gojek merupakan ide baru yang membuatku dan orang tuaku sedikit khawatir.

Tapi sesampainya ditempat, setelah melewati sesi panikku berada ditempat baru, aku disambut oleh orang-orang dewasa dan young adult lainnya. Aku suka lupa bahwa diatas mental ageku yang setara dengan anak berumur 12 tahun, aku sudah terlihat seperti anak kuliahan (bahkan kadang-kadang ibu muda, hiks). Jadi aku langsung membetulkan sikapku… dan tetap tidak berinteraksi dengan teman-teman yang lainnya. Aaaaaahhhh :”)

Anyways, kelas kali ini berjudul “Designing Our Own Happiness” oleh Om Eric, yang sayangnya setelah sesi selesai aku belom sempat berbicara lebih lanjut. Topik yang beliau ungkit adalah yang aku sebut sendiri the cycle of life. Dimana adanya turun dan naik dalam hidup, hidup yang flat aja mah gak menarik.

Mungkin terdengar klise atau terdengar seperti account sosial media yang isinya postingan galau seorang remaja tentang cinta dan teman palsu. Tapi itu memang the base of everything.

Aku sokan tadinya mau nulis pake bahasa yang agak official dan baku, tapi aku nyerah aja deh ya pake bahasa ala anak jaksel which is kayak gini. Memang saya pada dasarnya anak Jaksel jadi maklum aja yes  :D

Seperti di film film, resep utama jadi film itu adalah keberadaan konflik yang nantinya akan pelan-pelan menunjukkan solusi, baik itu dari dalam atau dari luar yang mengakibatkan happy ending. Graph yang terlihat seperti gunung dan lembah atau jurang ini bisa terlihat di semua aspect of life. Mau dari film making, writing, melukis dan pada akhirnya, life itself.

Disitu aku bisa mendengar keluh kesah teman-teman dewasa masalah masalah mereka, satu atau dua. Dimana dimata anak remaja yang merasa “kalau aku udah gede pasti udah tau what I’m doing”, tapi ternyata gak selalu begitu. Satu masalah yang aku dengarkan adalah bagaimana mereka tidak bisa memilih antara melakukan sesuatu yang mereka inginkan dan yang mereka butuhkan. Itu pastinya sesuatu yang kita semua udah pernah lewati, either itu sesuatu yang simpel seperti memilih makan siang yang sehat atau memilih junkfood sampai yang rumit yang bisa mempertaruhkan sesuatu yang lebih besar.

Aku bisa relate dengan pembicaraan mereka yang kebanyakan tentang pekerjaan dan kondisi financial mereka yang aku kira aku gak bakal berpikir “ohiya sama tuh sama gue”. But I did. Aku bisa ngerti kenapa mereka bingung dan sebenernya seberapa beruntungnya aku, sebagai underage yang masih di support oleh orangtuaku.

Itu yang aku renungkan selama lecture diadakan. Aku sejujurnya gampang bengong, mudah sekali bagiku untuk tiba-tiba memikirkan sesuatu sendiri dan tidak mendengarkan apapun yang terjadi disekelilingku. Terutama di ruangan vorlesung yang cukup tenang. Dan itu memang yang terjadi, aku merenung tentang ucapak Om Eric dan ketika aku sadar— aku baru saja kehilanga sekitar 2 atau 3 menit dari lecture itu. Bersyukur aku record, hitung hitung buat ibuku yang juga pengen dateng sehingga nanti aku bisa mendengar lagi.

Ada beberapa hal lain juga yang mengingatkanku pada hal-hal baru yang aku pelajari di tahun 2018 ini. Tahun 2018 ini tahun yang spesial, selain tahun keduaku aku menjadi homeschooler aku juga makin aktif. Semua itu dimulai dari perjalananku ke Semarang untuk bermain dengan teman seniku yang homeschooling juga bernama Nabila. Dia menekuni media oil dan digital dan termasuk salah satu teman seni manual yang aku miliki, karena teman-teman lain media utamanya merupakan digital dan aku tidak. Jadi tentunya aku sangat hype untuk datang dan menggambar dengannya. 

Pertemuanku dengan Nabila dan keluarga membuatku tersadarkan banyak hal, selain mandi pagi itu enak dan mandi dua kali sehari itu mantep juga. Satu perkataan yang selalu terngiang-ngiang dikepalaku sepanjang tahun adalah ucapan dari Om Ili — Bapaknya Nabila;

“Diva, kamu harus buat masalah. Inget, buat masalah”

Aku sedang bengong juga ditengah percakapan mereka yang full dengan bahasa Jawa yang membingungkan ketika Om Ili tiba-tiba berbicara padaku. Tapi itu nempel terus dan terus aku ceritakan kepada ibuku.

Sejak itu aku tidak memulai emo phase tentunya, bukan berarti aku jadi anak bandel yang suka keluar rumah malam-malam. Tapi aku mulai menchallange diriku dengan hal hal baru. Membuat workshop watercolor walaupun aku baru mulai menekuni media watercolor selama 5-6 bulan, which is crazy stupid!

It even sounds dumber when I write it out. Pada saat itu karya yang bisa aku tunjukkan sebagai portofolio hanya sejumlah 2 gambar yang serius dan 3 lukisan kecil kecil dari dua atau tiga tahun sebelumnya. Benar-benar nekat aku, yang mostly didorong dan dipaksa oleh ibuku, like most great things in life I did.

Pada akhirnya, sampai saat ini 2018 merupakan tahun yang paling eventful buatku. Dengan mengadakan workshop sendiri, menjual karya offline via event seperti Comifuro, dan kesempatan untuk kolaborasi dengan artist lain. Aku sendiri bingung ketika melihat kembali tahun ini yang belom berakhir.

Jadi Lecture qotavorlesung ini membuatku terinspirasi dan menimbulkan banyak pertanyaan lain dan aku sangat ingin datang dan berinteraksi lebih lama dengan orang-orang disana. Aku sendiri pulang lebih cepat dari teman-temanku karena ayahku tidak mau tidur sebelum aku sampai dirumah. Sempat tergoda memulai kehidupanku jadi anak sulung yang bandel, tapi mungkin harus diundur dulu  :D