Tidak Pernah Ada Waktu yang Tepat

Setelah tiga hari laptop teronggok di meja kerja tanpa dinyalakan, malam ini kutekan tombol Power dengan niatan menuangkan beragam cerita yang bisa dibagikan. Tentang banyak hal. Hasil pengamatan  dari yang terlihat maupun yang tidak selama libur lebaran yang baru saja berlalu.

 

Kebahagiaan menyelesaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh membuatku bersyukur. Alhamdulillah, semoga Allah SWT menerima ibadah ku selama bulan ramadhan. Juga menerima amal ibadahmu yang membaca tulisan ini.

 

Berjumpa saudara dekat, bertukar kabar berita. Ada satu hal penting di dalam momen itu, apalagi jika kita berkenan menyediakan telinga mendengarkan cerita pihak lain. Ketika berjumpa dengan mereka yang jarang kita temui, sudah seharusnya kita berusaha menghilangkan penilaian yang  terlalu cepat. Alih-alih langsung mengambil kesimpulan tanpa kesempatan berdialog lebih dalam lagi alangkah baiknya kita fokus kepada hal yang bermanfaat baik dan berujung pada solusi. Selemah-lemahnya jika memang tak mampu memberikan solusi, kita bisa mendoakan agar yang sedang menghadapi tantangan diberi kekuatan dan jalan keluar.

 

Bicara jalan keluar, yang terkait ekonomi, ada hal-hal yang berubah di lebaran tahun ini. Ada yang akan keluar dari rutinitasnya selama puluhan tahun dan berani mengambil keputusan untuk “memajukan dirinya” dan sebaliknya pula ada yang merasa tidak berani meninggalkan zona nyamannya. Kekuatiran dan keraguan akan selalu -mendampingi keputusan yang baru. Apalagi keputusan yang memaksa untuk keluar dari zona nyaman. Namun, untuk meraih kemajuan dalam hidup, maka sikap yang harus diambil adalah: berani untuk berubah dan mencari tempat baru dengan harapan harapan yang lebih baik dari yang ada saat ini. Buat apa bertahan pada posisi yang sekarang, jika sudah terbayang dalam benak, 3 tahun atau 5 tahun ke depan nanti, kondisinya akan sama seperti hari ini.  Lebih baik, memaksa diri, meski tidak nyaman, namun itu hanya sebentar saja. Hingga tiba waktunya untuk menuai hasil di tempat yang baru. Ketika berada di tempat baru, banyak yang harus dirubah bahkan dipelajari. Sikap tubuh pun berubah, belum lagi pikiran pun terpaksa harus beradaptasi karena berada dalam kondisi tidak nyaman. Untuk bertahan di tempat baru, maka dia harus beradaptasi dengan cepat.

 

Untuk berubah, tidak mengenal umur. Dulu kupikir, perubahan sebaiknya dilakukan di rentang usia 20-30 an, tapi ternyata dari banyak cerita sukses yang kudengar selama beberapa waktu terakhir ini, teori itu tidak sepenuhnya mutlak benar. Perubahan dapat dilakukan oleh siapa saja, bahkan di usia yang menurut orang awam sudah menjelang senja. Ah, rupanya, pola pikir yang kumiliki harus segera dikoreksi. Buru buru kusimpulkan, bahwa perubahan memang sangat baik dilakukan pada rentang usia dibawah 30 an, namun, tidaklah buruk juga hasil akhirnya, jika ternyata keberanian untuk berubah itu baru hadir di masa usia lebih dari itu. Asalkan tentu saja, dengan catatan, perubahan harus dipersiapkan dengan matang dan mental yang kuat. Selain itu pula, juga harus dengan target yang jelas, mau “bersakit-sakit” dalam perjuangannya dalam berapa tahun ke depan? Jangan sampai, keluarga tersayang merasakan sakit yang terlalu lama akibat keputusan berubah yang diambil.

Berubahlah karena memang harus memperjuangkan visi yang lebih besar.

Wallahu a’lam.